Biarkan saja dia datang. Ingatkan bila dia lupa mengucapkan salam. Ajarkan pula bagaimana dia harus menjalani agar semua terasa hidup. Tak usah berfikir dan berhenti berharap.
Semua seakan terlalu untuk direncanakan. Bukan kah cinta itu sebagian dari hidup? Bila cinta saja sudah difikirkan dan hidup sudah direncanakan, lalu apa hebatnya? Rencanakan saja sebagian, dan biarkan mereka berjalan dan memberi kejutan.
Dan seketika mereka pergi? Ucapkan salam sekali lagi. Dan jangan hiasi dengan ratap tangis. Mereka tak memikirkanmu saat meninggalkan, lantas apa yang membuat mu memikirkan mereka?
Hidup akan menjadi terlalu singkat hanya untuk memikirkan apalagi mengenang mereka yang meninggalkan.
Memang cinta bisa saja berakhir, tapi hidup terus berjalan.
Jumat, 26 April 2013
Berakhir, Memulai
Rabu, 06 Maret 2013
Per Sempre | Ku Cinta, Kau Tak Pahami
Kita terlalu menganggap wajar apa yang terjadi diantara kita sendiri. Begitu mudahnya celah yang ada sehingga tanpa sadar kita mematikan apa yang kita mulai.
Hingga semuanya terasa kian hambar. Terlalu takut melewati sakitnya luka kehilangan, namun tak jarang kita saling mengacuhkan. Harusnya aku atau harusnya kamu. .......
Bulan saja terkadang bersembunyi dibalik kelam malam. Sedangkan hujan juga turun dengan derasnya ketika bumi merintih. Semua akan ada akhirnya. Mungkin tak siap diri hadapi apa yang tak kita cari. Ketika aku dan kamu siap, mungkin sedikit pun tak ada celah lagi untuk kita saling mengenang.
Sekali lagi ku katakan, hanya saja aku belum sanggup memendam apa yang harusnya tak mati. Memusnah satu kekuatan kekal. Entahlah. Seharusnya kamu tak ragu, dan aku tak sangsi. Sedikit saja gunakan bahasa yang aku ketahui. Sedikit saja tunjukkan jelas bagaimana kau menerima semua yang aku serahkan. Aku terlalu lelah untuk mengerti lebih. Bagaimana menopang dunia ku lalu ku harus mengertikan kamu yang tak pernah bisa memahami. Kamu harusnya berarti lebih.
Aku sudah tuliskan di setiap bagaimana ku memulai hari. Aku sudah menari diatas papan tombolku, coba selaraskan hati dan tulisan. Aku sudah mengubah tatap mataku kepadamu, andai kau bisa menangkap pancarannya. Aku sudah mengubah lisanku, andai kau dengar bisikannya. Aku sudah menutup hariku dengan memimpikanmu, andai semua tersampaikan kepadamu.
Hanya saja, sampai kapan aku bisa bertahan untuk diacuhkan? Karna kau menanggapi berlainan.
Dan kini pun mulai terasa berat. Entah bagaimana aku memulai hingga kini perih saja terasa. Aku tak ingin aku terjaga hingga terlelap menyesali aku tak sampai bersamamu atau menyesali memendam ini sendiri.
Dan tahukah, ku memulai hari setiap paginya dengan secangkir kopi yang terasa pahit. Sepahit seorang yang dianugerahkan cinta lalu melewatkannya karna dia yang tak mengerti bagaimana menyampaikan atau kamu sendiri yang tak memahami.
Aku hanya tak ingin ada kata terlambat yang memperparah keadaan ini dan akan perlahan membunuhku lalu menghantui sisa hidupmu sendiri.
34446632
Hingga semuanya terasa kian hambar. Terlalu takut melewati sakitnya luka kehilangan, namun tak jarang kita saling mengacuhkan. Harusnya aku atau harusnya kamu. .......
Bulan saja terkadang bersembunyi dibalik kelam malam. Sedangkan hujan juga turun dengan derasnya ketika bumi merintih. Semua akan ada akhirnya. Mungkin tak siap diri hadapi apa yang tak kita cari. Ketika aku dan kamu siap, mungkin sedikit pun tak ada celah lagi untuk kita saling mengenang.
Sekali lagi ku katakan, hanya saja aku belum sanggup memendam apa yang harusnya tak mati. Memusnah satu kekuatan kekal. Entahlah. Seharusnya kamu tak ragu, dan aku tak sangsi. Sedikit saja gunakan bahasa yang aku ketahui. Sedikit saja tunjukkan jelas bagaimana kau menerima semua yang aku serahkan. Aku terlalu lelah untuk mengerti lebih. Bagaimana menopang dunia ku lalu ku harus mengertikan kamu yang tak pernah bisa memahami. Kamu harusnya berarti lebih.
Aku sudah tuliskan di setiap bagaimana ku memulai hari. Aku sudah menari diatas papan tombolku, coba selaraskan hati dan tulisan. Aku sudah mengubah tatap mataku kepadamu, andai kau bisa menangkap pancarannya. Aku sudah mengubah lisanku, andai kau dengar bisikannya. Aku sudah menutup hariku dengan memimpikanmu, andai semua tersampaikan kepadamu.
Hanya saja, sampai kapan aku bisa bertahan untuk diacuhkan? Karna kau menanggapi berlainan.
Dan kini pun mulai terasa berat. Entah bagaimana aku memulai hingga kini perih saja terasa. Aku tak ingin aku terjaga hingga terlelap menyesali aku tak sampai bersamamu atau menyesali memendam ini sendiri.
Dan tahukah, ku memulai hari setiap paginya dengan secangkir kopi yang terasa pahit. Sepahit seorang yang dianugerahkan cinta lalu melewatkannya karna dia yang tak mengerti bagaimana menyampaikan atau kamu sendiri yang tak memahami.
Aku hanya tak ingin ada kata terlambat yang memperparah keadaan ini dan akan perlahan membunuhku lalu menghantui sisa hidupmu sendiri.
34446632
Minggu, 23 Desember 2012
Decision
Seberapa jauh kapal kan berlayar, hanya akan ada ombak yang akan menerjang.
Seberapa jauh angin bertiup, hanya akan menubruk gunung pecah segala arah.
Hingga seberapa jauh kau memandang ke dalam hatiku, hanya akan kau temukan "kau dan kita" disana.
Bersama keluhnya. Bersama rintihnya.
Juga rasa tak ingin. Dan ada juga kemauan.
Sedemikian ini diantara kita begitu rumit hingga akan semakin menjadi mungkin bila kita menyatu.
Betapa jarak akan membunuh setiap benih cinta yang aku dan kau tanamkan.
Betapa ruang dan waktu akan menyekap setiap tindakan mesra dan menumbuhkan ego. Cemburu.
Aku tidak munafikan perasaan ini. Aku sayang, cinta, jatuh. Terdalam.
Namun aku juga tidak buta akan perbedaan kita. Perbadaan yg akan terlalu menguji dan terlalu banyak memakan buah pikiran.
Aku hanya tak ingin bila kau butuhkan aku tak ada.
Aku hanya tak mau mendengar kau melemah dan aku tak ada menguatkan.
Aku hanya tak ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang pecundang kita berada di tempat yg tak seharusnya. Tak berada dalam pandangan matamu, dan rentang lenganmu.
Andai ini memang benar menyatu. Kuatkanlah. Masih ada sedikit kepercayaan akan kuasa keajaiban atas takdir.
Andai ini hanya angan, biarlah menjadi angan. Berangan untuk bersama mu dan memiliki cinta yang tulus di dalamnya, sudah cukup bagiku.
...............
Demikian dia berkata kepada bulan menutup malam. Sebelum semuanya pergi.
Seberapa jauh angin bertiup, hanya akan menubruk gunung pecah segala arah.
Hingga seberapa jauh kau memandang ke dalam hatiku, hanya akan kau temukan "kau dan kita" disana.
Bersama keluhnya. Bersama rintihnya.
Juga rasa tak ingin. Dan ada juga kemauan.
Sedemikian ini diantara kita begitu rumit hingga akan semakin menjadi mungkin bila kita menyatu.
Betapa jarak akan membunuh setiap benih cinta yang aku dan kau tanamkan.
Betapa ruang dan waktu akan menyekap setiap tindakan mesra dan menumbuhkan ego. Cemburu.
Aku tidak munafikan perasaan ini. Aku sayang, cinta, jatuh. Terdalam.
Namun aku juga tidak buta akan perbedaan kita. Perbadaan yg akan terlalu menguji dan terlalu banyak memakan buah pikiran.
Aku hanya tak ingin bila kau butuhkan aku tak ada.
Aku hanya tak mau mendengar kau melemah dan aku tak ada menguatkan.
Aku hanya tak ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang pecundang kita berada di tempat yg tak seharusnya. Tak berada dalam pandangan matamu, dan rentang lenganmu.
Andai ini memang benar menyatu. Kuatkanlah. Masih ada sedikit kepercayaan akan kuasa keajaiban atas takdir.
Andai ini hanya angan, biarlah menjadi angan. Berangan untuk bersama mu dan memiliki cinta yang tulus di dalamnya, sudah cukup bagiku.
...............
Demikian dia berkata kepada bulan menutup malam. Sebelum semuanya pergi.
Langganan:
Postingan (Atom)