Minggu, 23 Desember 2012

Decision

Seberapa jauh kapal kan berlayar, hanya akan ada ombak yang akan menerjang.
Seberapa jauh angin bertiup, hanya akan menubruk gunung pecah segala arah.
Hingga seberapa jauh kau memandang ke dalam hatiku, hanya akan kau temukan "kau dan kita" disana.

Bersama keluhnya. Bersama rintihnya.
Juga rasa tak ingin. Dan ada juga kemauan.

Sedemikian ini diantara kita begitu rumit hingga akan semakin menjadi mungkin bila kita menyatu.
Betapa jarak akan membunuh setiap benih cinta yang aku dan kau tanamkan.
Betapa ruang dan waktu akan menyekap setiap tindakan mesra dan menumbuhkan ego. Cemburu.

Aku tidak munafikan perasaan ini. Aku sayang, cinta, jatuh. Terdalam.
Namun aku juga tidak buta akan perbedaan kita. Perbadaan yg akan terlalu menguji dan terlalu banyak memakan buah pikiran.

Aku hanya tak ingin bila kau butuhkan aku tak ada.
Aku hanya tak mau mendengar kau melemah dan aku tak ada menguatkan.
Aku hanya tak ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang pecundang kita berada di tempat yg tak seharusnya. Tak berada dalam pandangan matamu, dan rentang lenganmu.

Andai ini memang benar menyatu. Kuatkanlah. Masih ada sedikit kepercayaan akan kuasa keajaiban atas takdir.
Andai ini hanya angan, biarlah menjadi angan. Berangan untuk bersama mu dan memiliki cinta yang tulus di dalamnya, sudah cukup bagiku.

...............

Demikian dia berkata kepada bulan menutup malam. Sebelum semuanya pergi.

Kamis, 13 September 2012

Remain

Kita seperti enggan mau mati.
Padahal hitam sudah ada di sebelah kiri.

Kita seperti enggan ditinggalkan
Tapi semua udah jauh

Detik sudah mendendangkan waktu
Semakin melaju

Entah butuh berapa besar kekuatan untuk memutar-balik.
Mari kita kubur paksa saja semua yang masih hidup ini.

Jumat, 07 September 2012

Politikus tikus mampus

Lucu aja. 
Banyak yang kritik ini-itu, banyak yang punya ide buat indonesia yang lebih baik, banyak yg ngerasa bila si "beliau" jadi pemimpin bakal lebih baik dari si "beliau" yang ini. 
Banyak yg bicara keadilan, banyak yang bicara soal.. walah! Anjing itu semua. Kalo cuma bisa ngomong doank tapi perbuatan ga ada bagus diem aja. 
Kalo cuma sekedar teriak-teriak bernada mengecam atau kecewa yang ga jelas, maki-maki presiden dan antek-anteknya lewat jejaring sosial, atau buka-buka forum berdebat soal pemerintahan yang acakadut, berkomentar kritik ini itu.. ya bagus gausalah.
Kita boleh aja sih kritis terhadap pemerintah kita sendiri. Tapi ya harus dengan perbuatan donk. Kadang suka gimana gitu ngeliat beberapa temen mahasiswa yang kerjanya cuma komen doank, buat status2 facebook yang kesannya menyindir pemerintah, walah ampe mau mampus kau buat status juga ga mungkin Pak SBY baca.
Ini alasan kenapa aku milih apatis. Karena kalo ditelusuri ga ada calon yang tepat buat jadi presiden. Banyak keputusan dari pemerintah kita yang nyeleneh. Pusing mikirinnya.
Yang bikin aku miris, dari salah satu media massa beritain kalo anggaran untuk pemilu  2014 itu mencapai 8,1 T. Uang segede gitu udah bisa bangun 3 stadion berstandar FIFA. Gile bener.
Lebih miris lagi kalo negara kita ngadain pemilu dengan biaya segitu, dan kita milih calon yang nantinya bakal ngerugiin negara alias korupsi sekian miliar rupiah, haih mati aja udah. (mudah2an sih gak bakal gitu deh)
Yaudalah. Aku ga ngurus. Idup sendiri aja acakadut nagapain juga ngurusin pemerintahan yang emang dari dulu acakadut. Terserah siapapun presidennya, terserah siapa aja yang mau korupsi atau menteri se-DPR mau korupsi berjamaah ya terserah. Yang penting idupku masih bisa tenang. Masih bisa santai asal masih bisa makan. Itu udah lebih dari cukup. Ngomong-ngomong, di situasi seperti ini jadi kangen ama Alm. Pak Harto. Seandainya beliau masih muda dan masih ada dan juga masih menjabat sebagai presiden, mungkin tulisan ku yang kali ini ga bakal ada, Kenapa? Silahkan anda baca sendiri di sini Jenderal Soeharto dan untuk referensi lain juga aku buat lagi tulisan tentang beliau di sini The unsolved, Soeharto
Yah begitulah, emang susah emang ngatur negara bekas "didikan" kompeni.